Posted by: thetruth4world | January 7, 2009

Jerman 1922 – Bencana Uang Kertas

Dalam tatanan perekonomian kapitalis ribawi, setiap satu lembar uang kertas yang dicetak oleh bank tanpa dijamin oleh emas maka itu berarti penzhaliman kepada seluruh sistem masyarakat yg menggunakan uang kertas dalam kehidupan ekonominya.

Tanpa keterwakilan emas (atau komoditas real yang reliable) maka menjadikan selembar kertas tanpa nilai menjadi lembaran yang memiliki daya beli ekonomi adalah sama artinya dengan menciptakan kekayaan dari ruang hampa.

Pihak pengguna yang paling awal lah yang diuntungkan sedangkan semua orang setelahnya akan menanggung akibatnya. Melalui berkurangnya nilai ekonomi uang kertas milik mereka akibat bertambahnya jumlah uang kertas di pasar.

Sistem ribawi yang bersumber dari Ruhh keserakahan ini telah berjalan puluhan tahun, miliaran orang menjalankannya dengan sukarela tanpa penentangan. Seakan-akan semua itu adalah benar adanya.

Berbicara tentang keserakahan, sebuah pepatah mengatakan bahwa bumi ini cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh penduduk bumi, namun bumi ini tidak pernah cukup untuk memuaskan nafsu satu orang serakah.

Bagaimana apabila keserakahan manusia ini dilestarikan dan dilegitimasi oleh undang-undang formal, semoga kisah dibawah ini dapat menjadi pelajaran bagi kita.

Bencana Uang Kertas Di Jerman

Disadur dari Kemilau Investasi Dinar Dirham Muamalah Syar’i Tanpa Riba – Sufyan Al Jawi –

Kisah tragedy hiperinflasi yang dialami Jerman (1922-1923) merupakan klimaks dari kebobrokan sistem uang kertas. Jutaan rakyat jerman stress karena terlalu banyak memiliki uang kertas , sehingga angka bunuh diri melonjak! Loh, bukankah kalau banyak uang manusia seharusnya tambah senang ? Ternyata tidak! Coba renungkan syair ini : “Untuk membunuh orang tak butuh pisau (senjata) … Cukup secarik kertas dimana tertulis atau tercetak (uang) .. “ Albert Pick, Numismatic USA. Juga berikut ini : “Kebijakan politik dalam suatu agresi pendudukan, tak memerlukan peralatan militer canggih, karena secanggih apapun teknologinya, tak mungkin menandingi byte pasar pit uang yang menyerang dalam hitungan denyut nadi manusia…” Sufyan al Jawi, dari George Soros – The Maestro.

Di Berlin, pada akhir tahun 1922, harga sembako membumbung tinggi sampai 1500 kali lipat, lalu segera meroket melampaui satu milyar kali lipat dari harga sebelumnya. Cuma dalam waktu singkat harga sekerat roti dari 2 mark melesat menjadi 2400.000.000.000 mark (baca : 2,4 trilyun mark) dalam waktu 1 tahun! Rentenir menetapkan bunga 30-40 persen per hari, bahkan pada puncak inflasi : 200 % perhari atau 10 % per jam. Maka uang yang dipinjam pukul 6.00 pagi sebesar 100 milyar mark, harus diabayar kembali sebesar 220 miliar mark pada jam 6.00 sore, pada hari itu juga!

Para pekerja menghendaki upah harian yang dibayar tunai bahkan per jam. Dan segera menghabiskan upah mereka untuk membeli sembako secepat mungkin. Begitu mereka terlambat di toko, mereka mendapati gepokan uang gajinya sudah tak berdaya untuk membeli sesuatu, dan beberapa saat kemudian segera berubah fungsi menjadi kertas bahan bakar di tungku dapur rumah. Para petani harus memanen lebih cepat gandum, sayur dan buah yang wajib dikirim ke kota secepat mungkin! Para pedagang berpacu dengan waktu, antara menerima-menghitung dan menyetorkan uang ke bank.

Mesin-mesin cetak di bank sentral berderu lebih keras memproduksi uang kertas selama 24 jam nonstop, bahkan tak sempat lagi untuk mencetak bagian belakangnya! Keterlambatan distribusi uang sering kali berarti warkat moneter tersebut sudah nyaris tak ada nilainya lagi sebelum sampai di bank-bank kota. Sehingga Departemen Keuangan Jerman – Weimar Republic – cukup menstempel beberapa nol tambahan, dan diedarkan sebagai pecahan uang yang lebih tinggi lagi. Uang yang beredar di masyarakat sudah sesat dengan deretan angka nol berbaris. Uang terbitan tahun 1923 pecahan 1.000.000.000 mark (baca : 1 miliar mark) harus ditumpuk 2400 lembar untuk membeli sekerat roti atau sekilo tepung gandum. Bahkan uang kertas mark pecahan 1000.000 (baca: 1 juta mark) harus ditumpuk seberat 50 kg untuk membeli roti yang sama.

Wabah penyakit medis baru bernama “stroke nol” menjangkiti seluruh warga. Pebisnis, professional, pekerja, petani, bahkan ibu rumah tangga, kesulitan menghitung bilangan sebanyak itu. Semakin kaya dan banyak uang, semakin celakalah orang itu. Uang kertas membuat rakyat jerman frustasi, mati ditengah tumpukan jutaan lembaar uang kertas bermasalah. Padahal Jerman, sampai tahun 1921 , adalah Negara eropa yang makmur dan maju! Dalam setahun, bangkrut, berantakan, gara-gara uang kertas!

Bahkan Menkeu jerman: Rudolf Havenstain meninggal dunia, sesaat setelah mereformasi uang mark menjadi renten mark, mendevaluasi 1 trliyun mark menjadi 1 renten mark pada 20 november 1923, yang dipatok 4.2 trilyun mark untuk 1 dolar AS, mengakhiri uang-uang bernominal banyak: 1000.000.000.000 mark (100 trilyun mark) sebagai uang kertas ber-nol terbanyak di dunia (terbit 16 oktober 1923 dan 15 februari 1924). Ia mati karena letih didera oleh penderitaan yang berat dan bertubi-tubi sepanjang tahun 1922-1923. Anehnya Kanselor baru jerman , gustav Stresemann dan Gubernur Bank Sentral Jerman, Horace Greely Schacht, meski sudah menerbitkan rentern mark , tetap mencetak uang kertas pecahan 1 trilyun – 100 trilyun mark baru (biomark0, meskipun Jerman telah mendapat pinjaman emas dari Amerika sebesar $ 200 juta, agar negara ini kembali ke standard emas pada awal 1924.


Responses

  1. lalu, apa solusi jerman waktu itu? apa yg terjadi pada negara2 lain pada waktu yg bersamaan? apakah dari eropa atau benua lain?jika negara luar iran mengalami apa yg sedang dialami iran, apa solusinya? dalam sejarah, kekalahan atau kejatuhan sistem pemerintahan, berawal dari bidang ekonomi. kekhalifahan turki, kekaisaran china, rusia, uni soviet,dll yg berkaitan dengan sistem keuangannya dan produk2 globalnya. apakah mengubah cadangan devisa mata uang asing ke cadangan emas memberi pengaruh? mematok tetap nilai mata uang sendiri dengan mata uang negara lain, berdasarkan cadangan emas masing2 negara, dan menetapkannya fluktuatif berdasarkan cadangan emasnya (terutama mata uang dagang) dan faktor di luar emas adalah ceteris paribus bisakah? darimanakah kita tahu jumlah uang yg beredar di masing2 negara di seluruh dunia? apakah munculnya imperium amerika adalah krn sda terbatas eropa dan terlalu banyak perang yg dilakukannya?

  2. mungkin bisa dicek disini http://pohonbodhi.blogspot.com/2008/12/mengenai-hyperinflasi-weimar.html indahnya berbagi


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: